Langsung ke konten utama

Benarkah Soekarno Pernah Jadi Mandor Romusha saat Penjajahan Jepang?


Isu mengenai Soekarno yang pernah menjadi mandor Romusha selama masa penjajahan Jepang sering kali mencuat ke permukaan. Berbagai narasi beredar di masyarakat, mulai dari yang meyakini kebenaran klaim tersebut hingga yang meragukannya. Lantas, bagaimana faktanya?


Romusha adalah sistem kerja paksa yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Jepang di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pekerja Romusha dipaksa bekerja dalam kondisi yang sangat berat dan seringkali meninggal dunia akibat kelaparan, penyakit, dan perlakuan kejam dari penjaga Jepang.


Soekarno, sebagai tokoh nasional Indonesia, memang aktif dalam perlawanan terhadap penjajah dan pernah beberapa kali ditangkap dan dipenjara. Namun, munculnya narasi yang mengaitkan Soekarno dengan posisi “mandor” romusha menimbulkan berbagai pertanyaan.


Dengan sifat awal Jepang yang berpura-pura baik kepada Indonesia, Soekarno melihat celah untuk mengobarkan kemerdekaan Indonesia melalui perannya bersama Jepang. Karena saat Belanda berkuasa, sangat sulit untuk menyuarakan kemerdekaan. Oleh karena itu, Soekarno pun secara sukarela mengikuti kemauan Jepang dengan mengadakan praktik kerja romusha.


Keterlibatan Soekarno dalam praktik romusha dapat diartikan sebagai tokoh yang mengajak, mengakomosasi, mengirim, dan menarik rakyat dalam kerja paksa. Soekarno terlibat jelas, di mana ia mengkampanyekan dan menulis pengesahan atas program tersebut.


Atas tindakan Soekarno tersebut, ia menerima berbagai macam kritikan dan tuduhan sebagai mandora atau orang yang bertanggung jawab atas kesengsaraan rakyat akibat praktik kerja romusha.


Dalam biografi karya Cindy Adams yang berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, terdapat sebuah pengakuan atas tuduhan ini.


“Aku Sukarno yang mengirim mereka pergi bekerja. Ya, akulah orangnya. Aku mengirim mereka berlayar menuju kematian. Dan akulah yang memberikan mereka kepada orang Jepang. Rasanya mengerikan sekali, bukankah begitu? Ada orang yang mengatakan, rakyat tidak mau membaca ini, benar begitu? Yah, aku tidak marah kepada mereka. Tidak seorang pun yang suka kepada kebenaran yang menyedihkan,” (Adams, 2019: 232).


Soekarno mengakui bahwa tindakannya mendukung program romusha merupakan sebuah kesalahan. Ia merasa terpaksa melakukan hal tersebut karena situasi yang sulit pada saat itu. Soekarno berharap dengan cara ini, Indonesia dapat meraih kemerdekaan tanpa harus melalui pertumpahan darah yang besar.


Di balik semua itu, Soekarno memiliki alasan tersendiri terhadap program Romusha. Ia berpendapat bahwa dengan memberikan apa yang dibutuhkan Jepang, seperti tenaga kerja melalui program Romusha, ia dapat menuntut lebih banyak konsesi atau keuntungan bagi Indonesia. Konsesi ini, menurut Soekarno, adalah langkah strategis menuju kemerdekaan Indonesia.


Penulis: 

Siti Helya/Persma UPI Tasikmalaya


Desainer Grafis: 

Zaenal/Persma UPI Tasikmalaya


Daftar Pustaka:

Adams, C. 2019. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Yogyakarta: Media Pressindo.

Aisyah, S. 2023. 3,5 Tahun Jadi Mandor Romusha, Ternyata Ini yang Dicari oleh Soekarno Sampai Bebas Orasi Kebangsaan. Diakses pada 14 Agustus 2024 melalui https://www.hops.id/unik/29410291698/35-tahun-jadi-mandor-romusha-ternyata-ini-yang-dicari-oleh-soekarno-sampai-bebas-orasi-kebangsaan

Jumaidi, S. dan Nailufar, N. N. 2023. Soekarno Mandor Romusha, Bagaimana Faktanya? Diakses pada 14 Agustus 2024 melalui https://www.kompas.com/stori/read/2023/06/17/060000779/soekarno-mandor-romusha-bagaimana-faktanya-?page=all

Pamungkas, D. I. 2023. Benarkah Soekarno Sempat Jadi Mandor Romusha Jepang?. Diakses pada 14 Agustus 2024 melalui https://www.kompas.com/stori/read/2023/06/17/060000779/soekarno-mandor-romusha-bagaimana-faktanya-?page=all

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hamas Tanggapi Positif Proposal AS, Gencatan Senjata di Depan Mata

       Timur Tengah, 06 Juli 2025— Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyampaikan tanggapannya terhadap proposal gencatan senjata yang diusulkan oleh sekutu Israel, Amerika Serikat (AS). Pernyataan Hamas mengindikasikan mereka telah menyampaikan tanggapannya kepada para mediator.“Hamas telah menyelesaikan konsultasi internalnya serta konsultasi dengan faksi-faksi dan kekuatan-kekuatan Palestina terkait usulan terbaru dari para mediator untuk menghentikan agresi terhadap rakyat kami di Gaza,” tulis pernyataan dari gerakan itu yang diterima Republika Sabtu dini hari.       Dikutip dari news republika, Pada hari pertama dimulainya implementasi kesepakatan, akan diluncurkan perundingan mengenai gencatan senjata permanen, dengan fokus pada empat isu utama. Pertama adalah pertukaran seluruh tahanan yang tersisa dari kedua pihak. Kemudian pengaturan keamanan jangka panjang di Jalur Gaza. Selanjutnya pengaturan situasi “pasca-konflik” (hari setelah perang)...

Ruang Guru Rilis COC Season 2: UPI Turut Hadir

          asikmalaya, 30 Juni 2025 - Putri Hapsari Ayuningtyas atau lebih akrab di panggil dengan sebutan Putri, adalah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menjadi salah satu peserta dalam ajang kompetisi kecerdasan Clash of Champions Season 2, yang resmi tayang pada 29 Juni 2025 melalui platform YouTube dan aplikasi Ruangguru.      Dilansir dari Instagram @ruangguru, "Clash of Champions Season 2 menghadirkan 40 peserta terpilih dari berbagai Universitas ternama, baik dari dalam negeri maupun luar negeri." Putri, menjadi satu-satunya peserta dengan latar belakang jurusan keguruan yang ikut  berkompetisi di Clash of Champions Season 2.      Putri, yang memiliki IPK 3.83 dari skala 4.00, mewakili UPI dalam ajang ini. Ia juga tercatat meraih sejumlah prestasi akademik, antara lain: 1. Gold Medal Indonesian Student Science Competition (Bidang Ekonomi) 2023 2. Gol...

Kronologi Pendaki Asal Brasil Tewas di Jurang Gunung Rinjani: Versi Pemandu dan Asosiasi

     Tasikmalaya, 2 Juli 2025 — Dilansir dari TEMPO.CO, Jakarta - Pemandu pendaki Gunung Rinjani, Ali Musthofa, membantah telah meninggalkan Juliana de Souza Pereira Marins saat mendaki sehingga perempuan warga Brasil itu jatuh ke jurang pada Sabtu, 21 Juni 2025. Versi Ali, dia memberi kesempatan kepada Marins untuk berhenti dulu untuk beristirahat pada hari itu, sementara dia menunggu di depan dengan jarak tiga menit pendakian.      Namun sekitar 15 sampai 30 menit Juliana tidak muncul, Ali mengaku kembali ke titik semula dan mendapati Marins tidak ada di tempat. “Saya menyadari dia telah jatuh ketika saya melihat cahaya senter di jurang sedalam sekitar 150 meter dan mendengar suara meminta bantuan,” ujarnya kepada media Brasil O Globo yang terbit pada Selasa, 23 Juni 2025, dan dikutip lewat Google Translate.      Setelah mengetahui Juliana terjatuh, Ali memberitahu akan menolong dengan mencarikan bantuan karena menganggap tidak mungkin mela...