Langsung ke konten utama

DPR Dorong Pemanfaatan AI untuk Diagnosis Penyakit: Solusi Cerdas atau Ancaman Baru bagi Kesehatan?

Tasikmalaya, 9 Juli 2026 — Usulan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dalam menganalisis penyakit pada pasien di Indonesia dianggap sebagai inisiatif strategis yang bertujuan meningkatkan mutu layanan kesehatan di tanah air. Teknologi ini diyakini dapat mempercepat proses diagnosis dan meningkatkan efisiensi dalam pemrosesan data pasien oleh tenaga medis, khususnya mengingat keterbatasan jumlah tenaga kesehatan serta perbedaan akses layanan di berbagai daerah.

Afni Afiatin Azhar, seorang mahasiswa di Universitas Siliwangi jurusan Ilmu Politik, mengungkapkan bahwa penerapan AI dalam sektor kesehatan bukan hanya masalah teknis, tetapi juga berhubungan dengan kebijakan publik dan kedaulatan negara. AI berpotensi berkontribusi dalam pemerataan akses layanan kesehatan di tengah ketidakmerataan antara wilayah. Namun, ada kekhawatiran mengenai pengawasan teknologi serta kedaulatan data kesehatan publik jika tidak dikelola dengan tepat.

"Pemanfaatan AI dalam kesehatan bukan sekadar isu teknis, melainkan isu kebijakan publik dan kedaulatan negara.

Indonesia memiliki beban kesehatan yang berat, ditambah ketimpangan akses pelayanan antara Jawa dan luar Jawa. AI berpotensi menjadi instrumen untuk mewujudkan health equity dan memperkuat pelayanan publik. Namun, pertanyaannya adalah: siapa yang mengendalikan teknologi ini? Saya melihat ini sebagai peluang bagi negara untuk memperkuat peranannya dalam penyediaan layanan dasar kesehatan (konsep welfare state). Tapi jika tidak diatur dengan baik, justru bisa memperlemah kedaulatan data kesehatan masyarakat Indonesia," Ujarnya. 

Sementara itu, Sarah Nisrina Rafilah mahasiswi  program studi PGSD Kampus UPI di Tasikmalaya menyampaikan bahwa AI dapat membantu mempercepat dan meningkatkan akurasi diagnosis penyakit. Meskipun demikian, penggunaannya harus tetap berada di bawah pengawasan dokter. Risiko seperti kesalahan analisis, bias data, serta potensi pelanggaran privasi pasien menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam implementasinya.

"AI bisa dipakai untuk membantu analisis penyakit pasien di Indonesia, asalkan tetap diawasi dokter. Sehingga, pemeriksaan secara langsung tenaga kesehatan tetap penting, AI hanya sebagai pendukung, bukan pengganti dokter," Ujarnya. 

Disisi lain, Alin Aprillia mahasiswi program studi PGSD Kampus UPI di Tasikmalaya menyampaikan bahwa AI dapat menjadi solusi dalam membantu daerah yang masih kekurangan tenaga medis dan fasilitas kesehatan. AI juga dinilai mampu membantu dokter dalam mengolah data pasien secara lebih cepat. Namun, penggunaannya tetap harus didampingi tenaga medis agar hasil analisis tidak disalahartikan.

"Usulan tersebut cukup baik karena AI bisa membantu tenaga kesehatan dalam menganalisis penyakit dengan lebih cepat. Di Indonesia masih ada daerah yang kekurangan dokter atau fasilitas kesehatan, sehingga AI bisa menjadi alat pendukung untuk membantu proses pemeriksaan. Namun, penggunaannya tetap harus didampingi oleh dokter agar hasilnya tidak disalahartikan," Ujarnya. 

Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat sejumlah pakar. Dr. Eric Topol, seorang ahli kardiologi sekaligus peneliti di Scripps Research Translational Institute, menyatakan bahwa AI memiliki potensi besar dalam meningkatkan akurasi diagnosis dan efisiensi layanan kesehatan melalui analisis data medis dalam jumlah besar.

Selain itu, Prof. Fei-Fei Li, pakar kecerdasan buatan dari Stanford University, menekankan bahwa AI seharusnya digunakan untuk memperkuat peran manusia, bukan menggantikannya, khususnya dalam bidang yang membutuhkan pertimbangan etis seperti kesehatan.

Dengan demikian, usulan DPR terkait pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam analisis penyakit pasien di Indonesia menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kualitas sekaligus pemerataan layanan kesehatan. Namun, implementasinya perlu diiringi dengan pengawasan yang ketat, regulasi yang jelas, serta jaminan perlindungan data pasien. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu bagi tenaga medis, bukan sebagai pengganti, sehingga aspek profesionalitas dan keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama.

Sumber :

https://nasional.kompas.com/read/2026/06/25/14111931/soroti-kekurang-dokter-anggota-dpr-usul-ai-bantu-analisis-penyakit-pasien

https://share.google/yciOlrcKBXlr3mJR1

https://kumparan.com/kumparannews/dpr-usul-pemanfaatan-ai-untuk-bantu-atasi-kekurangan-dokter-di-daerah-27fI8mdLltT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hamas Tanggapi Positif Proposal AS, Gencatan Senjata di Depan Mata

       Timur Tengah, 06 Juli 2025— Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyampaikan tanggapannya terhadap proposal gencatan senjata yang diusulkan oleh sekutu Israel, Amerika Serikat (AS). Pernyataan Hamas mengindikasikan mereka telah menyampaikan tanggapannya kepada para mediator.“Hamas telah menyelesaikan konsultasi internalnya serta konsultasi dengan faksi-faksi dan kekuatan-kekuatan Palestina terkait usulan terbaru dari para mediator untuk menghentikan agresi terhadap rakyat kami di Gaza,” tulis pernyataan dari gerakan itu yang diterima Republika Sabtu dini hari.       Dikutip dari news republika, Pada hari pertama dimulainya implementasi kesepakatan, akan diluncurkan perundingan mengenai gencatan senjata permanen, dengan fokus pada empat isu utama. Pertama adalah pertukaran seluruh tahanan yang tersisa dari kedua pihak. Kemudian pengaturan keamanan jangka panjang di Jalur Gaza. Selanjutnya pengaturan situasi “pasca-konflik” (hari setelah perang)...

Ruang Guru Rilis COC Season 2: UPI Turut Hadir

          asikmalaya, 30 Juni 2025 - Putri Hapsari Ayuningtyas atau lebih akrab di panggil dengan sebutan Putri, adalah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menjadi salah satu peserta dalam ajang kompetisi kecerdasan Clash of Champions Season 2, yang resmi tayang pada 29 Juni 2025 melalui platform YouTube dan aplikasi Ruangguru.      Dilansir dari Instagram @ruangguru, "Clash of Champions Season 2 menghadirkan 40 peserta terpilih dari berbagai Universitas ternama, baik dari dalam negeri maupun luar negeri." Putri, menjadi satu-satunya peserta dengan latar belakang jurusan keguruan yang ikut  berkompetisi di Clash of Champions Season 2.      Putri, yang memiliki IPK 3.83 dari skala 4.00, mewakili UPI dalam ajang ini. Ia juga tercatat meraih sejumlah prestasi akademik, antara lain: 1. Gold Medal Indonesian Student Science Competition (Bidang Ekonomi) 2023 2. Gol...

Kronologi Pendaki Asal Brasil Tewas di Jurang Gunung Rinjani: Versi Pemandu dan Asosiasi

     Tasikmalaya, 2 Juli 2025 — Dilansir dari TEMPO.CO, Jakarta - Pemandu pendaki Gunung Rinjani, Ali Musthofa, membantah telah meninggalkan Juliana de Souza Pereira Marins saat mendaki sehingga perempuan warga Brasil itu jatuh ke jurang pada Sabtu, 21 Juni 2025. Versi Ali, dia memberi kesempatan kepada Marins untuk berhenti dulu untuk beristirahat pada hari itu, sementara dia menunggu di depan dengan jarak tiga menit pendakian.      Namun sekitar 15 sampai 30 menit Juliana tidak muncul, Ali mengaku kembali ke titik semula dan mendapati Marins tidak ada di tempat. “Saya menyadari dia telah jatuh ketika saya melihat cahaya senter di jurang sedalam sekitar 150 meter dan mendengar suara meminta bantuan,” ujarnya kepada media Brasil O Globo yang terbit pada Selasa, 23 Juni 2025, dan dikutip lewat Google Translate.      Setelah mengetahui Juliana terjatuh, Ali memberitahu akan menolong dengan mencarikan bantuan karena menganggap tidak mungkin mela...